Info Bisnis

Peringkat Wisata Ramah Muslim Indonesia Naik ke Posisi Kedua Dunia pada 2026

Indonesia kembali menunjukkan daya saingnya dalam industri pariwisata internasional setelah berhasil naik ke posisi kedua dunia sebagai destinasi wisata ramah Muslim pada 2026. Pencapaian tersebut diumumkan melalui Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang diterbitkan Mastercard dan CrescentRating pada 18 Juni 2026. Indonesia memperoleh skor 79, meningkat dari peringkat kelima pada tahun sebelumnya, serta menempati posisi kedua bersama Turki dan Arab Saudi. Prestasi ini menjadi perkembangan penting bagi sektor pariwisata nasional sekaligus membuka peluang Bisnis bagi pelaku usaha perhotelan, kuliner halal, perjalanan wisata, dan layanan pendukung yang ingin menjangkau wisatawan Muslim domestik maupun internasional.

Kenaikan Peringkat Pariwisata Ramah Muslim Indonesia di Tingkat Global

Destinasi wisata ramah Muslim Indonesia memperoleh pengakuan lebih tinggi dalam laporan GMTI yang diterbitkan pada 2026. Menurut pengumuman Mastercard dan CrescentRating, Indonesia berhasil mencapai urutan kedua dengan skor 79. Hasil pemeringkatan itu menunjukkan kenaikan tiga peringkat dibandingkan 2025. Dalam hasil GMTI 2026, Indonesia menempati posisi yang sama dengan Turki dan Arab Saudi. Sementara itu, Malaysia masih memimpin daftar global dengan nilai 83. Komposisi peringkat internasional itu memberikan gambaran pentingnya peningkatan layanan.

Perbaikan posisi dalam GMTI berpotensi memperkuat citra destinasi Indonesia karena hasil penilaian menjadi informasi bagi calon wisatawan. Ketika negara bersaing menarik pengunjung, tersedianya fasilitas yang relevan bagi wisatawan menjadi pertimbangan penting. Walaupun peringkat kedua merupakan pencapaian positif, hasil pemeringkatan tidak langsung berarti seluruh usaha mengalami kenaikan pendapatan. Dampak ekonominya memerlukan pengukuran menggunakan data pengunjung dan belanja. Oleh sebab itu, pengembangan destinasi harus dilaksanakan secara konsisten.

Cara Global Muslim Travel Index Mengukur Kesiapan Pariwisata

Global Muslim Travel Index memberikan gambaran kualitas ekosistem perjalanan ramah Muslim. Pada edisi GMTI tahun 2026, cakupan evaluasi mencapai 150 destinasi. Kerangka penilaian utama dikenal sebagai ACES, yaitu Access, Communications, Environment, dan Services. Kategori kemudahan perjalanan berkaitan dengan konektivitas serta kemudahan mencapai destinasi. Untuk aspek komunikasi, ketersediaan informasi perjalanan berperan dalam kesiapan destinasi. Rangkaian indikator tersebut menilai kesiapan destinasi secara lebih menyeluruh.

Komponen Environment serta Services melengkapi evaluasi terhadap pengalaman wisatawan. Untuk wisatawan Muslim, kemudahan menemukan kuliner sesuai kebutuhan, sarana pendukung kegiatan keagamaan, serta informasi pelayanan yang jelas mendukung pengalaman wisata yang lebih baik. Namun demikian, konsep ramah Muslim tidak harus membatasi pengunjung lain. Dalam operasional usaha wisata, pemahaman indikator ACES dapat membantu menentukan prioritas. Apabila pengalaman pengunjung diperhatikan secara menyeluruh, pengembangan pariwisata menjadi lebih terarah.

Kesempatan Usaha Lokal dari Penguatan Destinasi Ramah Muslim

Peningkatan pengakuan internasional dapat memberikan kesempatan pengembangan usaha. Industri perjalanan wisata melibatkan berbagai jenis usaha. Hotel dan penginapan dapat menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan tamu. Untuk kegiatan kuliner, penjual makanan lokal serta penyedia konsumsi dapat memperhatikan kepastian kehalalan produk. Selain itu, pengelola jasa perjalanan berpotensi menyediakan pilihan perjalanan sesuai kebutuhan. Peluang peningkatan pelayanan ini memberikan nilai tambah bagi pelanggan.

Bagi pelaku UMKM, ekosistem perjalanan berpotensi membuka pasar pada barang kreatif khas daerah, usaha pangan berbasis budaya setempat, dan jasa pendamping perjalanan. Walaupun banyak bidang dapat terlibat, tidak semua produk otomatis diminati wisatawan. Pengelola UMKM wisata harus memahami karakter pengunjung yang ditargetkan. Misalnya, produsen makanan oleh-oleh dapat menyiapkan informasi bahan yang jelas. Untuk penyedia pengalaman wisata, penyelenggara kunjungan lokal dapat memperhatikan waktu ibadah dalam penyusunan kegiatan. Melalui pelayanan yang sesuai kebutuhan, pengalaman pengunjung dapat menjadi lebih memuaskan.

Cara Pelaku Bisnis Pariwisata Meningkatkan Fasilitas bagi Wisatawan Muslim

Pelaku Bisnis perhotelan berpeluang mengembangkan pelayanan yang sesuai kebutuhan pasar. Pendekatan operasional yang relevan adalah memastikan tamu mudah mengetahui orientasi ibadah, menyampaikan lokasi ruang ibadah yang tersedia, serta memberikan penjelasan tentang menu dan penyedia makanan. Namun demikian, klaim pelayanan tidak boleh melebihi fasilitas yang tersedia. Apabila akomodasi memiliki layanan restoran, pengelolaan dapur membutuhkan standar yang sesuai. Apabila fasilitas sesuai dengan informasi promosi, pengalaman menginap dapat menjadi lebih nyaman.

Dalam kegiatan usaha makanan dan minuman, kepastian informasi halal menjadi perhatian utama. Restoran dan kedai makanan harus memperhatikan regulasi jaminan produk halal yang relevan. Selain kelengkapan administrasi, ketepatan pengadaan bahan menjadi bagian dari pengelolaan mutu. Misalnya, pemakaian bahan olahan dari produsen berbeda harus dievaluasi berdasarkan persyaratan produk. Untuk meningkatkan pengalaman tamu, penjelasan komposisi makanan dapat membantu pelanggan menentukan pesanan. Dengan menggabungkan kepatuhan dan pelayanan, pengalaman konsumen dapat meningkat.

Tantangan Infrastruktur dan Promosi Destinasi Muslim-Friendly Indonesia

Kenaikan peringkat Indonesia pada GMTI 2026 dapat menjadi dorongan pengembangan ekosistem wisata. Pemerintah melalui lembaga pariwisata dapat membantu meningkatkan koordinasi pelayanan. Untuk mempertahankan daya saing internasional, akses transportasi, ketersediaan panduan perjalanan, dan fasilitas yang relevan bagi pengunjung dapat memengaruhi pengalaman wisatawan. Di samping pembangunan fasilitas, kerja sama dengan pelaku usaha lokal berpotensi mendukung pemerataan kesempatan usaha. Meskipun investasi pariwisata diperlukan, perencanaan perlu mempertimbangkan kapasitas daerah.

Tidak hanya bergantung pada infrastruktur, visibilitas layanan secara daring perlu diperhatikan. Dalam laporan GMTI 2026, kecerdasan buatan dalam perencanaan perjalanan mendapat perhatian. Perubahan teknologi pencarian wisata menunjukkan perlunya informasi destinasi yang akurat. Usaha kuliner dan operator destinasi harus menjaga kejelasan jam operasional dan kontak. Selain itu, penjelasan layanan ramah Muslim yang akurat mengurangi risiko kesalahpahaman. Melalui informasi digital yang terpercaya, peluang Bisnis pariwisata berpotensi meningkat.

Mengoptimalkan Potensi Pasar Wisata Muslim untuk Pertumbuhan Bisnis

Pasar perjalanan wisatawan Muslim memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang. Berdasarkan paparan mengenai prospek perjalanan global, jumlah perjalanan wisatawan Muslim dunia pada 2025 tercatat dalam estimasi sekitar 196 juta perjalanan. Pada akhir periode proyeksi menuju 2030, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 262 juta. Gambaran perkembangan industri tersebut menunjukkan adanya kesempatan yang dapat dipelajari. Walaupun proyeksi pasar menggambarkan potensi, realisasi perjalanan dapat berubah. Untuk menghindari keputusan berlebihan, pengembangan layanan harus mempertimbangkan pasar nyata.

Dalam menyusun strategi pelayanan wisatawan Muslim, langkah pertama adalah memahami kebutuhan target pelanggan. Wisatawan keluarga dapat memiliki prioritas perjalanan tersendiri, dibandingkan pelancong mandiri. Dalam penyusunan produk wisata, layanan tur untuk kelompok keluarga perlu memperhatikan jadwal ibadah dan kemudahan menemukan pilihan kuliner. Untuk segmen lainnya, kemudahan pemesanan secara online mungkin mendapat perhatian khusus. Dengan menawarkan pelayanan yang relevan, usaha dapat menghindari paket yang terlalu umum. Penilaian pengalaman pelanggan juga perlu dilakukan.

Kesimpulan: Kenaikan Peringkat GMTI Membuka Peluang Bisnis Pariwisata

Keberhasilan pariwisata Indonesia naik ke posisi kedua menjadi perkembangan penting bagi sektor wisata nasional. Dengan skor 79, Indonesia berbagi posisi kedua dengan Turki dan Arab Saudi, setelah mengalami kenaikan dari posisi lima tahun sebelumnya. Hasil pemeringkatan ini memberikan dorongan untuk memperkuat kualitas layanan. Meskipun hasil tersebut membanggakan, manfaat ekonominya perlu diwujudkan melalui kunjungan nyata. Kemudahan mengakses informasi perjalanan, layanan pangan yang jelas, serta konektivitas destinasi menjadi bagian dari penguatan daya saing.

Untuk mempertahankan momentum tersebut, pengelola destinasi serta usaha lokal harus berkolaborasi. Hotel, restoran, operator perjalanan, dan UMKM memiliki kesempatan meningkatkan standar pelayanan. Walaupun pasar perjalanan Muslim berpotensi tumbuh, investasi harus mengikuti kebutuhan nyata. Dengan peningkatan mutu serta promosi yang tepat, manfaat ekonomi pariwisata dapat diperluas. Bagaimana pendapat Anda, apakah fasilitas wisata ramah Muslim di Indonesia sudah cukup memadai? Ceritakan pengalaman Anda agar diskusi mengenai wisata ramah Muslim semakin bermanfaat.

Related Articles

Back to top button